Minggu, 16 Desember 2012

Hormon Esterogen, Progesteron dan Androgen

BAB I 
PENDAHULUAN 
1.1 LATAR BELAKANG 
Menurut pengertian umum, obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap, obat adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia atau hewan; atau (2) dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh (misalnya : hormon, vitamin D) atau merupakan merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh. Pada makalah ini akan dibahas memgenai obat hormonal. Walaupun hormon merupakan zat yang disintesis oleh badan dalam keadaan normal, tidak berarti hormon bebas dari efek toksis/racun. Pemberian hormon eksogen / dari luar yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan keseimbangan hormonal dengan segala akibatnya. Sistem kerja hormon berdasarkan mekanisme umpan balik. Artinya, kekurangan atau kelebihan hormon tertentu dapat mempengaruhi produksi hormon yang lain. Hal ini disebut homeostasis, yang berarti seimbang. Analog hormon adalah zat sintetis yang berkaitan dengan reseptor hormon. Analog hormon sangat mirip dengan hormon alami dan sering kali fungsi klinisnya lebih baik dari pada hormon alaminya sebab mempunyai beberapa sifat yang lebih menguntungkan. Misalnya estradiol adalah hormon alami yang masa kerjanya sangat pendek, sedangkan etinilestradiol adalah analog hormon yang masa kerjanya lebih panjang. 
 1.2 RUMUSAN MASALAH 
1.2.1 Jelaskan definisi dan sumber dari hormone ? 
1.2.2 Apa definisi dari Gonad ? 
1.2.3 Jelaskan hormone – hormone esterogen, progesterone, dan androgen / testoteron ! 
1.3 TUJUAN MASALAH 
1.3.1 Untuk mengetahui definisi dan sumber dari hormone. 
1.3.2 Untuk mengetahui definisi dari Gonad. 
1.3.3 Untuk mengetahui hormone-hormon esterogen, progesterone, androgen / testoteron. 
1.4 METODE PENULISAN 
Metode pengumpulan data dalam penulisan makalah ini diperoleh dengan membaca buku-buku literatur serta mencari informasi yang berkaitan dengan Hormon Gonadotropin yang terdiri dari : Esterogen, Progesteron, dan Testoterone / Androgen. 
 BAB II PEMBAHASAN 
2.1 Definisi dan Sumber Hormon 
Hormon adalah zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang masuk ke dalam peredaran darah untuk mempengaruhi jaringan target secara spesifik. Jaringan yang dipengaruhi umumnya terletak jauh dari empat hormon tersebut dihasilkan, misalnya hormon pemacu folikel (FSH, follicle stimimulati ormone ) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior hanya merangsang jaringan tertentu di ovarium. Dalam hal hormon pertumbuahn lebih dari satu organ menjadi terget sebab hormon pertumbuahan mempengaruhi sebagai jenis jaringan dalam badan. Jaringan target suatu hormon sangat spesifik karena sel-selnya mempunyai reseptor untuk hormon tersebut. Sumber hormon alami adalah ternak sapi, babi dan biri-biri. Tetapi beberapa hormon demikian khas sifatnya sehingga yang berasal dari binatang tidak efektif pada manusia misalnya hormon pertumbuahan, FSH dan LH9 (luteinizing hormone). Hormon yang berasal dari hewan dapat menimbulkan reaksi imunologis. Saat ini uintuk menghasilkan hormon alami dipakai cara rekayasa genetika. Melalui rekayasa genetika, DNA mikroba dapat di arahkan untuk memproduksi rangkayan asam amino yang urutnya sesui hormon manusia yang diinginkan. Dengan cara ini dapat dibuat hormon alami dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat. Hormon hasil rekayasa genetika tidak menimbulkan reaksi imunologi karena sama dengan hormon manusia asli. cara ini sangat membantu pengadaan hormon yang dialam ini jumlahnya sangat sedikit misalnya hormon pertumbuhan. 
2.2 Hormon Gonadotropin 
2.2.1 Pengertian Gonad Kelenjar kelamin disebut pula dengan gonad. Meskipun fungsi utamanya adalah memproduksi sel-sel kelamin, namun kelenjar kelamin juga memproduksi hormon. Kelenjar kelamin laki-laki terdapat pada testis, sementara kelenjar kelamin perempuan berada pada ovarium. Gonad (hormon kelamin) merupakan kelenjar endokrin yang dipengaruhi oleh gonadotropin hormon (GtH) yang disekresikan kelenjar pituitari .Hipofisis mengsilkan 2 jenis gonadotropin yang mengatur fungsi alat reproduksi yaitu hormon pemacu folikel (FSH=folicle stimulating hormone dan LH= lutenizing hormone). Pada setiap spesies tertentu hipofisis penting selama kehamilan, sedangkan umumnya kehamilan dapat berjalan tanpa hip`ofisis. Gonadotropin hipofisis adalah hormon glikoprotein (peptida) dan hanya efektif bila diberikan dalam bentuk suntikan. Kadar gonadotropin dalam urin dapat diukur radioimmunoasay, berdasarkan antibodi spesifik terhadap gugus yang membeda-bedakan dengan masing-masing hormon hipofisis. Di dalam testis terdapat sel Leydig yang menghasilkan hormone testosteron atau androgen. Hormon testosteron sangat berpengaruh terhadap proses spermatogenesis (proses pembentukan sperma) dan pertumbuhan sekunder pada laki-laki. Pertumbuhan sekunder pada anak laki-laki ditandai dengan suara menjadi besar, bahu dan dada bertambah bidang, dan tumbuh rambut pada bagian tubuh tertentu misalnya kumis, janggut, cambang, ketiak, dan sekitar kemaluan. Sementara itu, hormon estrogen dan progesteron disekresikan oleh ovarium. Estrogen dihasilkan oleh folikel de Graff dan dirangsang oleh hormon FSH. Hormon estrogen berfungsi saat pembentukan kelamin sekunder wanita, seperti bahu mulai berisi, tumbuhnya payudara, pinggul menjadi lebar, dan rambut mulai tumbuh di ketiak dan kemaluan. Di samping itu, hormon enstrogen juga membantu dalam pembentukan lapisan endometrium. Bagi wanita, hormon progesteron berfungsi menjaga penebalan endometrium, menghambat produksi hormon FSH, dan memperlan-car produksi laktogen (susu). Hormon ini dihasilkan oleh korpus luteum dan dirangsang oleh LH. FSH pada wanita menyebabkan perkembangan folikel primer menjadi folikel graaf. Di bawah pengaruh LH, folikel yang telah berkembang mensekresi estrogen dan progesteron. LH menyebabkan terjadinya ovulasi dan juga mempengaruhi korpus luteum untuk mensekresi estrogen dan progesteron. Proses terakhir dikenal sebagai aktivitas laktogenik, yang pada beberapa spesies berada dibawah pengaruh proklatin. Sedangkan FSH pada pria berfungsi menjamin terjadinya spermatogenesis, antara lain dengan mempertahankan fungsi tubulus seminiferus, LH merangsang sel leydig mensekresi testoteron. 
2.2.2 Mekanisme Kerja Hormon Gonadotropin 
Mekanisme kerja hormon tropik adenohipofisis misalnya hormon Gonadotropin(hormon kelamin) merupakan mekanisme kerja hormon pada taraf selular tergantung jenis hormonnya, mengikuti salah satu mekanisme berikut: Hormon berinteraksi dengan reseptornya mengakibatkan perangsangan atau penghambatan mengubah kecepatan sintesis siklik AMP dari ATP ,selanjutnya siklik AMP berfungsi sebagai mediator intrasel untuk hormon tersebut dan seluruh sistem ini berfungsi sebagai suatu mekanisme spesifik sehingga efek spesifik suatu hormon dapat terjadi. Siklik AMP mempengaruhi berbagai proses dalam sel,dan efek akhirnya bergantung dari kapasitas serta fungsi dari sel tersebut.siklik AMP menyebabkan aktivasi enzim-enzim protein kinase yang terlibat dalam proses fosforilasi pada sintesis protein dalam sel.siklik AMP mempengaruhi kecepatan proses ini.metabolisme siklik AMP menjadi 5,AMP dikatalisis oleh enzim fosfodiesterase yang spesifik.dengan demikian zat-zat yang menghambat enzim fosfodiesterase dapat menyebabkan timbulnya efek mirip hormon. 
2.3 Hormon – Hormon Gonadotropin 
A. ESTEROGEN 
Ovarium mempunyai fungsi gametogenik penting yang di integrasikan dengan aktivitas hormionalnya. Pada wanita, gonad relatif tenang selama masa pertumbuhan dan maturasi yang cepat. Pada masa puberitas, ovarium memulai suatu periode 30-40 tahun fungsi siklus yang disebut siklus haid karena masa pendarahan teratur yang merupakan manifestasinya yang paling jelas. Ovarium ini kemudian memberikan respon terhadap gonadotropin yang disektresikan oleh kelenjar hipofise, dan berhentinya perdarahan siklik yang terjadi ini di sebut menopause. Mekanisme yang bertanggung jawab bagi mula kerja fungsi ovarium pada masa puberitas dianggap berasal dari saraf, karena gonad yang tidak matang dapat dirangsang oleh gonadotropi yang sudah ada di dalam hipotalamus dan karena hipofise berespon terhadap hormon penglepas gonadotropin hipotalamus. Sumber Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan,dll. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma. Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis. Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta. Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita. Fungsi lainnya sebagai berikut : 
• Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium. 
• Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks. 
• Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina. 
• Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara. Juga mengatur distribusi lemak tubuh. 
• Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang. Pada wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti.
Indikasi Beberapa indikasi dari estrogen, antara lain: 
• Kontrasepsi. Estrogen sintetik paling banyak digunakan untuk kontrasepsi oral dalam kombinasi dengan progestin. 
• Menopause. Pada usia sekitar 45 tahun umumnya fungsi ovarium menurun. Terapi pengganti estrogen dapat mengatasi keluhan akibat gangguan vasomotor, antara lain hot flushes, vaginitis atropikans dan mencegah osteoporosis. 
• Vaginitis Senilis atau Atropikans. Radang pada vagina ini sering berhubungan dengan adanya infeksi kronik pada jaringan yang mengalami atrofi. Dalam hal ini, estrogen lebih berperan untuk mencegah daripada mengobati. 
• Osteoporosis. Keadaan ini terjadi karena bertambahnya resorpsi tulang disertai berkurangnya pembentukan tulang. Pemberian estrogen dapat mencegah osteoporosis berkelanjuitan atau dapat pula diberikan estriol. 
• Karsinoma Prostat. Karena estrogen menghambat sekresi androgen secara tidak langsung maka hormon ini digunakan sebagai terapi paliatif karsinoma prostat. 
 Kontra Indikasi Wanita hamil atau menyusui, gangguan fungsi hepar, riwayat trombosis atau emboli, hipertensi, penyakit jantung, perdarahan vagina yang belum jelas penyebabnya, adenoma mamma ata adanya tumor pada alat reproduksi. 
 Farmakokinetik 
 Hampir semua sediaan estroen mudah diabsorbsi melalui saluran cerna, mukosa atau kulit utuh. Absorbsinya melalui kulit cukup baik sehingga sering memberikan efek sistemik. Hal ini antara lain terlihat sebagai ginekomastia pada pria yang mengolah estrogen di pabrik tanpa sarung tangan. Kecepatan ekskresi melalui urin setelah estrogen diberikan oral atau IV hampir sama ; hal ini menunjukkan bahwa absorbsi per oral cepat dan lengkap. Estrogen hampir tidak larut dalam air. Sediaan parenteral dalam larutan minyak cepat diabsorbsi dan dimetabolisme, karena estrogen alam tidak efektif pada pemberian oral. Untuk mengatasi ini, maka estrogen diberikan dalam bentuk esterbenzoat, sipionat, enantat dan lain – lain. Sedian bentuk ester ini bersifat kurang polar dan akibatnya absorbsi lambat dan masa kerjanya lebih panjang. Masa kerja kerja estradiol benzoat sampai beberapa hari, sedangkan estradiol dipropionat dan sipionat 1 -2 minggu. Nasib estrogen alami hampir sama dengan estrogen endogen. Dalam darah sebagian besar hormon terikat kuat dengan globulin pengikat hormon kelamin (sex hormon binding globulin, SHGB) sebagian lagi berikatan tidak kuat dengan albumin dan sebagian kecil terdapat dalam keadaan bebas. Inaktivasi terutama terjadi di hepar dan dari tempat ini akan diekskresikan ke empedu kemudian mengalami sirkulasi enteronepatik. Selama menjalani sirkulasi itu, hormon mengalami degradasi menjadi estriol dan estron untuk kemudian dikonyugasi dengan asam sulfat atau glukuronat dan akhirnya diekskresikan melalui ginjal. Metabolisme estrogen sintetik agak berbeda. Etinilestrogen dan dietilstilbestrol yang aktif peroral, dimetabolisme di hepar dan dijaringan lain jauh lebih lambat daripada estrogen alami. Karena itu, estrogen sintetik masa kerjanya lebih panjang dan dapat diberikan satu kali sehar, sedangkan estrogen alami harus diberikan dua atau tiga kali sehari. Dalam urin, estrogen endogen ditemukan sebagai estradiol, estron dan estriol yang terkonyugasi dengan sulfata atau glukuronat. Mekanisme Kerja Reseptor estrogen berupa protein telah ditemukan di jaringan target yaitu seluruh reproduksi wanita, kelenjar mamae, hipofisis dan hipotalamus. Estrogen terikat dengan afinitas tinggi pada reseptor protein di sitoplasma. Setelah mengalami modifikasi, komplek reseptor estrogen ini kemudian ditranslokasi ke inti sel dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini memacu sintesis mRNA dan beberapa protein spesifik lainnya. Beberapa jam kemudian, terjadi sintesis RNA dan protein lebih banyak, dan pada tahap lebih lanjut terjadi stimulasi sintesis DNA. Sintesis protein oleh dihambat oleh penghambat sintesis RNA (daktinomisin) atau penghambat sintesis protein (sikloheksimid). Penggunaan estrogen dengan reseptornya dihambat oleh obat golongan antiestrogen, misalnya klomifen dan atau tamosifen. Efek samping Efek samping yang sering timbul adalah mual dan muntah, yang mirip dengan keluhan pada kehamilan muda. Kadang – kadang disertai anoreksia dan pusing, yang biasanya hilang sendiri meskipun terapi diteruskan, bila sangat menggangu obat harus dihentikan. Keluhan tersubut biasanya timbul pada minggu I sampai minggu ke II pengobatan, ini sering terjadi pada terapi karsinoma atau penggunaan kontrasepsi oral. Frekuenzi timbulnya mual diduga sejajar dengan potensi estrogeninya, sehingga bebarapa sediaan lebih jarang menimbulkan mual daripada yang lannya. Efek samping lain berupa rasa penuh dan nyeri pada payudara, sedangkan udem yang disebabkan oleh retensi air dan natrium lebih sering terjadi pada penggunaan dosis besar. Sediaan dan Dosis Estriol, tablet 1 dan 2 mg, masa kerja singkat karena ikatannya pada sel target singkat, aktifitas terhadap protein plasma rendah, cepat dieliminasi dari tubuh, dosis 2-4 tablet sehari, Estriadol valerat tab 2 mg, dosis 1 tab sehari, 17-β estradiol patch 100 µg/hari, etinilestradiol tab 50 µg, masa kerja lebih panjang, dosis 1/2 -1 tablet sehari, Estropipat (Na-estron sulfat) 0,625 mg, dosis 1 a 2 tab sehari. Semua ini digunakan pada defisiensi estrogen, osteoporosis pascaamenopause. Untuk kontrasepsi, lihat preparat kontrasepsi hormone. 
 B. Progesteron 
Progesterone merupakan hormone steroid kelamin alamiah yang diproduksi di tempat yang sama denga estrogen. Derivat sintetiknya, golongan progestin, merupakan hasil modifikasi stuktur testosterone tanpa atom C19 atau derivate 19-nortestosteron. Struktur kimia berbagai preparat progesterone dan derivatnya, yang banyak digunakan dan dibedakan sbb : golongan pregnan, terdiri atas progesterone, megestrol asetat dan medroksiprogesteron asetat (MPA), golongan estran terdiri atas 19-nortestosteron, noretindron, etinodiol diasetat , golongan gonan terdiri atas norgestrel, desogestrel, norgeslimat. Sintesis dan sekresi Progesterone disekresi oleh ovarium terutama dari korpus luteum selama fase pertengahan kedua siklus menstruasi. Sebenarnya sekresi dimulai tepat sebelum ovulasi. Kecuali di ovarium, hormone ini juga disintesis di testis, korteks adrenal dan plasenta. Kecepatan sekresinya mulai dari beberapa mg sehari selama fase folikuler dan meningkat sampai 10-20 mg pada fase luteal, mencapai beberapa ratus mg pada masa akhir kehamilan. Pada pria, kecepatan sekresinya sekitar 1-5 mg sehari, sesuai dengan fase folikuler siklus wanita. Bila ada fertilisasi ovum, sekitar 7 hari kemudian terjadi implantasi diikuti pembentukan trofoblast yang akan mensekresi human chorionic gonadotropin (HCG) ke sirkulasi maternal untuk mempertahankan kehidupan korpus luteum. Kadar hCG di urin, beberapa hari sebelum haid berikutnya akan terus meningkat secara progesif sampai sekitar 5 minggu berikutnya kemudian menurun selama kehamilan. Pada bulan ke II-III kehamilan, placenta yang terus berkembang, mulai mensekresikan estrogen dan progesteron bersamaan dengan yang berasal dari adrenal fetus, mulai saat tersebut korpus luteum tidak di perlukan lagi. Estrogen dan progesteron akan terus disekresikan sampai kehamilan atern. Fisiologi Dan Khasiat Farmakologi • Saluran reproduksi Progesteron pada fase luteal akan mengendalikan efek proliferasi estrogen pada endometrium dan terjadi fase sekretorifase. Terjadinya penurunan hormon ini secara tiba-tiba pada akhir sirklus haid, merupakan penyebab utama keluarnya perdarahan haid. Pada keadaan normal efek estrogen akan mendahului dan menyetai progesterone dalam hal efeknya pada endometrium dan hal ini penting untuk timbulnya siklus haid yang normal. Hormon ini menyebabkan secret kelenjar endoserviks lebih kental dan lebih sedikit, hal ini dapat mempersulit penetrasi sperma. Kecuali jika pematangan epitel vagina akan berubah menjadi seperti pada kehamilan, dan keadaan ini dapat diketahui dengan pemeriksaan sitologi hapus vagina. Progesterone sangat penting untuk mempertahankan kehamilan, akan menekan terjadinya perdarahan haid dan kontraksi uterus. Karena preparat progestin digunakan untuk threatenen abortion, meski sebenarnya kegunaan terapi ini masih diragukan karena pada abortus spontan jarang ditemukan kadar progesterone yang rendah. • Kelenjar Mammae Selama masa kehamilandan fase luteal siklus haid, progesterone dan estrogen menyebabkan proliferasi asini kelenjar mammae. Pada akhir masa kehamilan asini kelenjar terisi secret dan vaskularisasi bertambah sesudah partus dimana estrogen dan progesterone sangat menurun, baru akan terjadi laktasi. Pada fase folikuler aktifitas mitosis epitel kelenjar berlangsung sangat lambat dan mencapai puncak setelah fase luteal. Gambaran ini mencerminkan efek progesterone yang men-trigger suatu fase mitosis di epitel kelenjar mammae. Meskipun efek ini berlangsung sesaat, pemaparan progesterone terus-menerus dengan cepat akan diikuti penghentian pertumbuhan sel-sel epitel. Keadaan ini berlawanan dengan di endometrium dimana proliferasi terjadi paling besar pada fase folikuler karena kadar estrogen yang meningkat dan akan diantagonis oleh progesteon pada fase luteal. Pengaruh hormone pada proses proliferasi di kedua jaringan ini berbeda, dan efek yang bersifat cell-specific ini harus selalu di ingat pada interpretasi efek terapi dan efek samping kedua hormone tersebut. • Susunan saraf pusat Suhu tubuh wanita selama suatu siklus haid akan meningkat 1°F (0, 056°C) pada pertengahan siklus (midcycle), hal ini dihubungkan dengan waktu dimana terjadi ovulasi. Kenaikan suhu ini disebabkan oleh efek progesterone dan berlangsung sampai terjadi perdarahan haid. Mekanisme timbulnya perubahan suhu ini belum diketahui jelas tetapi mungkin terjadi perubahan pada pusat pengatur suhu di hipotalamus. Progesterone dapat menimbulkan rasa kantuk, mungkin akibat efek depresan dan hypnosis pada SSP. Karenanya dapat di anjurkan penggunaannya pada malam hari sebelum tidur yang pada beberapa wanita dapat membantu mudah tertidur. • Efek metabolik Progesterone dapat meningkatkann insulin basal atau setelah makan karbohidrat, tetapi tidak menyebabkan perubahan toleransi glukosa, kecuali penggunaan jangka panjang progestin yang poten (norgestrel). Hormone ini dapat merangsang aktifitas enzim lipoprotein lipase dan nampaknya menambah liposit lemak. Progesterone dan analognya (MPA) dapat menyebabkan peningkatan LDL dan penurunan HDL (sedang) atau tidak ada perubahan.efek derivate 19-norprogestin terhadap lipid darah lebih jelas karenaaktifitas androgeniknya: hasil studiprospektif yang besar menunjukkan bahwa MPA menurunkan HDL yang meningkat pada penggunaan conjugated estrogen sebagai HRT, tetapi tidak ada efek yang berarti pada penurunan LDL akibat estrogen. Sebaliknya progesterone bentuk micronized tidak memperlihatkan efek yang berarti pada profil HDL maupun LDL yang menguntugkan akibat penggunaan estrogen. Progesterone juga mungkin dapat mengurangi efek aldosteron pada reabsorpsi Na ditibuli renalis dan menyebabkan peningkatan sekresi mineralokortikoid korteks adrenal. Farmakokinetik Progesteron dalam larutan minyak yang diberikan secara parenteral akan segera diabsorbsi dengan cepat, sehingga efek terapeutik optimalnya sukar didapat. Telah dibuktikan bahwa satu dosis yang terbagi dalam beberapa kali pemberian sehari lebih efektif daripada pemberian satu dosis tunggal sekaligus. Progesteron yang diberikan per oral juga akan diabsorbsi dengan cepat dan mengalami sirkulasi enterohepatik. Inaktivasinya terjadi di hepar dan dalam siklus enterohepatik hormon ini akan mengalami perubahan yang cukup cepat sehingga pemberian oral kurang efektif dibandingkan pemberian parenteral. Derivat progestin mengalami nasib yang agak berbeda dengan progesteron endogen atau alami. Proses degradasinya berlansung lebih lambat, sehingga cukup diberikan dalam dosis tunggal. Inaktivasi progesteron di hepar menghasilkan pregnanediol yang setelah dikonyugasi dengan asam glukuronat diekskresi melalui urin. Sebanyak 50% - 60% progesteron radioaktif yang diberikan akan ditemukan di urin dan kira – kira 10% dalam tinja. Pada keadaan normal, pregnanediol di urin merupakan 12 sampa1 15% dari progesteron yang dimetabolisme., jumlah ini akan meningkat sampai kira – kira 30% pada penggunaan progesteron jangka lama, pada fase luteal dan pada kehamilan. Mekanisme Kerja Di dalam gen progesterone hanya mempunyai reseptor tunggal (PR) yang memproduksi dua isoform, PR-A dan PR-B. Kedua isoform PR ini mempunyai ligand-binding domain yang identik, tidak berbeda seperti yang dimiliki isoform ER. Pada keadaan tanpa ligand, PR berada di inti dalam bentuk monomerik terikat inaktif dengan heat-shock proteins (HSP-90, HSP-70, dan p59), apabila telah terikat progesterone HSP terlepas (berdisosiasi) dan reseptor mengalami fosforilase dan kemudian membentuk dimer (homo- dan heterodimer) yang terikat dengan selektifitas tinggi pada progesterone response elements (PREs) pada gen target. Proses transkripsi oleh PR terjadi melalui recruitment beberapa ko-aktivator. Kompleks reseptor koaktifator ini selanjutnya berinteraksi dengan beberapa protein spesifik yang mempunyai aktifitas asetilasi histon. Asetilase histon menyebabkan remodeling kromatin dan menambah protein transkripsi al. RNA polymerase II ke promoter target. Antagonis progesterone juga akan menyebabkan dimerisasi reseptor dan pengikatan dengan DNA, tetapi konformasi antagonist-bound PR lain dengan agonist-bound PR. Konfirmasi ini tidak akan menyebabkan transkripsi gen. Indikasi Progesteron memiliki khasiat sebagai berikut: • Kontrasepsi. Beberapa derivat progestin sering dikombinasikan dengan derivat estrogen untuk kontrasepsi oral. • Disfungsi perdarahan rahim. Perdarahan rahim akibat gangguan keseimbangan estrogen dan progesteron tanpa ada kelainan organik antara lain perdarahan rahim fungsional. Untuk menghentikan perdarahan yang berlebihan dan pengaturan siklus hadi dapat diberikan progestin oral dosis besar. • Nyeri haid. Pemberian kombinasi estrogen dengan progestin diindikasikan untuk nyeri haid yang tidak dapat diatasi dengan estrogen saja. • Endometriosis. Penyebab nyeri hebat pada endometriosis belum jelas diketahui tapi dapat diberikan noretindron. 
C. Androgen
Androgen ialah hormone steroid rumus kimianya berciri 19 atom C dengan inti steroid. Disamping androgen terdapat pula prekusor androgen yang di sebut juga pro androgen. Androgen dan pro androgen di sintesis oleh testis, ovarium, dan korteks adrenal laki laki dan perempuan. Testoteron merupakan androgen pertama yang di sekresi oleh testis pada pria. Pro androgen androstenedion dan dehidroepiadosteron bersifat androgen lemah yang di ubah di perifer menjadi testoteron. Sumber Pada manusia, androgen terpenting yang disekresikan oleh testis adalah testoteron. Jalur sintesis testoteron didalam testis mirip dengan yang telah digambarkan didalam ovarium dan adrenal. Pada laki-laki, setiap hari dihasilkan sekitar 8 mg testoteron. Kira-kira 95 persen diproduksi oleh sel leydig dan hanya 5 persen olh adrenal. Testis juga mensekresikan dalam jumlah sedikit androgen kuat lainnya, dihidrotestoteron. Juga androstenedion dan dehidropiandrosteron, yang merupakan androgen lemah. Pregnenolon dan progesteron serta turunanya 17-hidrisilasi juga dilepaskan dalam jumlah kecil. Kadar testoteron dalam plasma pada laki-laki kira-kira 0,6 /dl setelah puberitas dan tidak tampak bervariasi secara bermakna sesuai umur. Farmakodinamik Pada masa pubertas, androgen dalam jumlah kecil yang disekresikan oleh testis korteks adrenal cukup untuk mencegah sekresi gonadotropin melalui mekanisme umpan balik. Pada saat pubertas terjadi penurunan sensitivitas terhadap mekanisme umpan balik sehingga gonadotropin di sekresi dalam jumlah yang cukup dan terjadi pembesaran testis. Segera setelah itu penis dan skrotum tumbuh, begitu pula rambut pubis sebagai cirri seks sekunder laki-laki. Bersamaan dengan itu fungsi anabolic androgen merangsang pertumbuhan badan sehingga pada anak laki-laki dalam masa pubertas terlihat penambahan tinggi badan, perkembangan otot rangka dan tulang disertai penambahan berat dana yang pesat. Kulit bertambah tebal disertai profilerasi glandula sebasea. Pada individu tertentu hal ini menimbulkan akne. Lemak subkutan berkurang, dan mulai tumbuh rambut di ketiak, tubuh dan ekstremitas. Pertumbuhan laring dan pita suara menimbulkan suara bernada rendah. Terjadi peningkatan ertropoesis sehingga hematokrit dan hemoglobin pada laki-laki dewasa lebih tinggi daripada wanita dan anak-anak. Semua ini menghasilkan gambaran khas laki-laki. Pada akhirnya pertumbuhan longitudinal tubuh berakhir dengan penutupan epifisis tulang panjang. Mekanisme Kerja Testoterone bebas dari plasma masuk ke sel target dengan cara difusi. Tergantung jaringan dan fungsi sel yang dimasukinya testosterone dapat bekerja langsug sebagai androgen melalui iktan dengan reseptor androgen, atau dengan berubah dahulu menjadi dehidrotestoteron ( DHT ) yang kemudian akan berikatan dengan reseptor androgen yang sama tetapi dengan afinitas yang lebih tinggi. Testoteron juga dapat bekerja sebagai esterogen di jaringan yang mempunyai enzim aromatase, ( CYP 19 ada di banyak jaringan terutama hepar dan jaringan lemak )yang akan mengubah menjadi estradiol yang kemudian bekerja melalui reseptor esterogen. Farmakokinetik Testoteron dalam pelarut minyak yang disuntikkan, diabsorpsi sangat cepat, segera dimetabolisme di hepar dan cepat diekskresi sehingga efeknya lemah. Testoteron per oral diabsorpsi dengan cepat, tetapi efektivitasnya lebih lemah lagi sebab hampir seluruhnya dimetabolisme di hepar sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Sediaan Androgen No Nama Sediaan Kimia Cara Pemberian Pemakaian Klinis Dosis 1 Testoteron IM 10-50 mg/3x seminggu 2 Testoteron Propionat Ester IM Karsinoma payudara 10-25 mg/2-3x seminggu 3 Testoteron Sipionat Ester IM - Hipogonadisme prepubertas dan hipogonadisme usia dewasa - Karsinoma payudara 100-200 mg/tiap 2-4 minggu 200-400 mg/tiap 2-4 minggu 4 Testoteron Enanfat Ester IM Stimulasi pubertas / pertumbuhan pada kasus spesifik Individualisasi 5 Metilestestoteron 17 alkil Oral, bukal - Hipogonadisme usia dewasa - Anabolic - Karsinoma payudara mestastik 10-50 mg/hari Individualisasi 200 mg/hari 6 Flouksimesteron 17 alkil Oral - Hipogonadisme usia dewasa - Anabolic - Karsinoma payudara metastik 10-20 mg/hari Individulisasi 10-30 mg/hari 7 Danazol 17 alkil Oral - Endometriosis - Payudara fibrosistik - Edema angioneuretik herediter Tergantung berat penyakit dan respon individual 200-800 mg/hari selama 3-9 bulan 100-400 mg/hari Awal : 400-600 mg/hari lalu turun serendah mungkin yang masih efektif. Interaksi Obat 17 alkil androgen meningkatkan efek anti koagulan oral ( kumarin dan indandion ) sehingga perlu penurunan dosis antikoagulan untuk mencegah terjadinya pendarahan. 
BAB III 
PENUTUP 
3.1 KESIMPULAN Hormon adalah zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang masuk ke dalam peredaran darah untuk mempengaruhi jaringan target secara spesifik. Gonad (hormon kelamin) merupakan kelenjar endokrin yang dipengaruhi oleh gonadotropin hormon (GtH) yang disekresikan kelenjar pituitari . Hipofisis menghasilkan 2 jenis gonadotropin yang mengatur fungsi alat reproduksi yaitu hormon pemacu folikel (FSH=folicle stimulating hormone dan LH= lutenizing hormone). Hormon – Hormon Gonad diantaranya adalah estrogen, progesteron (pada wanita), dan androgen (pada pria) dll. 
3.2 SARAN Meskipun hormon memiliki peran yang penting, namun harus dibarengi dengan penggunaan yang tepat. Karena hormon juga dapat menimbulkan efek sampin yang tidak diinginkan jika dosis terapi yang diberikan berlebihan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar